Pengen menjadi arsitek

ini maksudnya arsitek... bukan charlie's angels
18 tahun yang lalu, ketika saya mulai kuliah, bangga sekali rasanya, bisa kuliah di Jurusan Arsitektur Rasanya ketika itu saya cinta mati dengan arsitektur (pilihan pertama dan pilihan kedua saya ketika UMPTN dulu (sekarang SNMPTN ya ?) sama-sama jurusan arsitektur, hanya di beda PTN di kota yang berbeda). Nggak heran, kebetulan dari dulu saya adalah penganut aliran sufi (baca : suka film). Dan pada film-film holywood, sering… hampir selalu, digambarkan arsitek adalah sosok yang keren, hebat, dan tentu saja… kaya… J
Yang saya tahu ya :
  • Tom hanks, (Sleepless in Seatle)
  • Keanu Reeves, (The Lake House)
  • Yang terakhir, Leonardo di Caprio (Inception ,2010)
Karena penasaran, saya lalu googling tentang facts tersebut, ternyata memang ada banyak. Hehehe. Ini linknya kalo penasaran juga http://www.archdaily.com/33366/fictional-architects-in-movies/
Begitu kuliah dimulai, wah jauh lebih bangga lagi. Ternyata di arsitek diajarin segala macam. Mulai dari itung-itungan yang sangat rumit buat saya yang nilai matematika pas-pasan (mektek), sejarah, filosofi, psikologi manusia, manajemen (manajemen proyek), ekonomi, dan tentu saja unsur seninya.
Coba bandingkan dengan Kedokteran Gigi (maaf sebut jurusan, cuman bercanda kok). Mereka dari masuk kuliah sampai lulus kan cuman nguplek-uplek gigi manusia yang jumlahnya cuman 32 itu. Coba kalau dibagi rata 8 semester, brarti dalam satu semester mereka cuman ngulik-ulik 4 biji gigi doang. Hahaha.  (Saya ngaku deh, joke ini kulakandari Prof. Eko Budihardjo di seminar IAI kemarin).
Walaupun defisit jam tidur dibandingkan dengan teman-teman jurusan lain, tapi saya tetap bangga. Bedanya kentara jelas ketika ada bola di TV. Mereka nongkrongin pertandingan di depan TV, dari pertama sampai peluit terakhir, sementara saya sambil gambar tugas di atas meja gambar (th 1994) di dalam kamar, buka pintu lebar-lebar (serasa dengar radio deh) dan baru keluar kamar bila suara sorak-sorai yang pada nonton mulai heboh. Hehe
Tapi, menginjak tahun-tahun terakhir, terus terang mulai ada rasa bimbang. Saking banyaknya yang dipelajari, malah bingung, sebetulnya di jurusan Arsitek itu apa yang dipelajari ya ? Apakah dengan mempelajari segala hal itu, kita tidak akan jadi orang yang nanggung ?. Kita belajar gaya dan itungan sampai njengking pun, pasti kalah sama orang sipil lah. Kita belajar perilaku penghuni bangunan pun akan kalah sama anak psikologi. Kita belajar ekonomi proyek, tentu akan kalah njelimet dibandingkan anak ekonomi.  Kita belajar art dan keindahan pun, akan kalah oleh anak jurusan seni. Lalu ngapain kita harus mempelajari itu semua ?
Hehe, tenang saja, yang bingung bukan kita aja kok. Kalau diperhatikan dari nama jurusan dan fakultasnya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki jurusan arsitektur, para petinggi kampus pun ‘bingung’ untuk menempatkan Jurusan arsitektur di fakultas apa sebetulnya. Ada yang memberi nama ‘Jurusan Teknik Arsitektur’, ada yang memberi nama ‘Jurusan Arsitektur’ saja. Ada yang meletakkan Jurusan Arsitektur di dalam Fakultas Teknik, ada yang di dalam fakultas yang berhubungan dengan Seni, bahkan ada yang meletakkan arsitektur sebagai sebuah fakultas sendiri :
  • Undip Semarang : Jurusan Arsitektur di dalam Fakultas Teknik
  • UGM Yogyakarta : Jurusan Arsitektur di dalam Fakultas Teknik
  • ITB Bandung : Dulu Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, sekarang menjadi Prodi Arsitektur dalam Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) . http://sappk.itb.ac.id/
  • Tri Sakti Jakarta : Fakultas Arsitektur, lansekap, dan teknologi bangunan
  • Unika Soegijapranata Semarang : Fakultas Arsitektur dan Desain
  • UNS Surakarta : Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik
  • Unpar : Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik
  • ITS Surabaya : Jurusan Arsitektur dalam Fakultas Teknik Sipil dan Desain
Sebagai perbandingan, sedikit yang ada di luar, dari berbagai negara yang berbeda :
  • Melboune University : Architecture department dalam Faculty of Architecture, Building, and Planning
  • University of Tokyo : Architecture department dalam Faculty of Engineering
  • Massachusetts Institute of Technology : Architecture Dept dalam School of Architecture & Planning.
Hehe, macem-macem ya ? Begitulah. Lalu kembali ke topik yang tadi, apakah memang perlu kita sebagai arsitek harus tahu segala macem ilmu yang kita pelajari di atas tadi ? apakah memang kita perlu belajar mekanika, sejarah, psikologi, ekonomi, manajemen, seni, dan lain-lain itu ?
Percaya nggak percaya, jawabannya adalah PERLU !!!,  pakai huruf kapital, di-bold, dikasih underline, dan diberi tanda seru paling sedikit tiga biji J
Mengapa ?
Karena tugas utama seorang arsitek adalah mensintesa, men-sari-kan, dan membuat suatu kondisi lingkungan buatan (baca : build environment) bagi tempat hidup manusia. Karena manusia itu sendiri adalah sebuah, eh suatu (?) makhluk yang kompleks, tentu untuk menciptakan lingkungan buatan bagi manusia perlu background knowledge dari berbagai aspek bidang kehidupan manusia, yaitu ya segala bidang-bidang ilmu yang kita pelajari tadi.
Tentu saja, itu bila kita ingin menciptakan suatu lingkungan buatan yang mendekati ideal bagi manusia. Nggak bisa kalau hanya didekati dari satu bidang ilmu saja. Misal, kita hanya menggunakan kekuatan perhitungan bangunan saja. Boleh jadi bangunan kita akan kuat meski ada gempa 10 skala Richter (Naudzubillahi min dzalik ya, jangan sampai terjadi), tetapi, indahkah bangunan itu, nyamankah dihuni, ekonomis kah ? belum tentu. Demikian halnya bila suatu desain bangunan hanya didekati dari aspek estetisnya. Mungkin hasilnya akan indah dilihat, tetapi kuatkah bangunan tersebut, nyamankah dihuni, dan ekonomiskah? Jawabannya juga sama, belum tentu.  Apalagi bila yang dijadikan pertimbangan adalah faktor ekonomi saja, bisa jadi hasil akhirnya akan murah dari segi biaya, tapi tidak kuat, tidak fungsional, tidak nyaman, dan tidak indah.
Tentu kita pernah melihat sebuah bangunan yang terlihat kuat tapi tidak bagus, terlihat mahal tapi tidak indah, terlihat indah tapi tidak nyaman. Itulah yang terjadi bila seorang arsitek (atau jangan2 malah tidak didesain oleh arsitek) hanya mempunyai background knowledge yang tidak untuh.
Jadi yang perlu kita lakukan, adalah mengendapkan seluruh background knowledgetersebut dalam bawah sadar kita (jangan terlalu dalem ngendapinnya lho, ntar susah dikeluarkan lagi. Hehe) dan biarlah masing-masing bagian pengetahuan yang diperlukan akan menjalankan tugasnya ketika kita sedang dihadapkan pada tugas utama kita sebagai arsitek : meng-create suatu lingkungan buatan bagi manusia untuk hidup di dalamnya.
Jadi, buat yang sedang menempuh sekolah arsitektur, enjoy saja dalam mempelajari seluruh bidang ilmu yang diajarkan. Tidak perlu menguasai semuanya, nggak akan bisa deh. Tahu saja sudah cukup kok. Semoga, ketika lulus nanti semuanya akan menjadi arsitek yang utuh, profesional, dan melahirkan banyak mahakarya yang bermanfaat buat banyak orang. Bisa terkenal seperti Ridwan Kamil dah. Saya ingat betul ketika dulu saya dengan bengong mengamati Tugas Akhirnya dia yang mengambil project Apartemen Bawah Air. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat II apa III gitu. Bang Emil cuman bilang, “ Udah, nggak usah ‘gumun’, nanti juga nyampe kok”. Eh… tapi mas, kok sampe sekarang nggak nyampek-nyampek ya? Hahaha.
Tidak ingin menjadi arsitek ketika lulus nanti ? nggak masalah, justru dengan spektrum ilmu yang sangat luas itu, lulusan jurusan arsitektur akan memiliki pilihan lapangan kerja yang luar biasa banyak. Dia akan bisa menjadi seorang birokrat yang baik di pemerintahan, karena terbiasa berpikir komprehensif dan problem solver. Dia akan bisa jadi manager yang baik dalam bidang apapun, karena terbiasa berpikir sistematis, kompleks, dan terbiasa bekerja sebagai teamwork. Bahkan, dia akan bisa menjadi penjual yang baik, karena terbiasa berpresentasi dan mengungkapkan gagasannya. Insya Allah.
Meminjam theme-nya film Negeri 5 Menara yang sedang ngetrend, “Man Jadda Wajada”. Pokoknya berusaha sebaik-baiknya sajalah, maka pasti akan berhasil dengan baik.
* eh, gambar di atas maksudnya arsitek lho, bukan charlie’s angels. hehe
septanabp.wordpress.com

Postingan populer dari blog ini

Contoh cara perhitungan struktur perencanaan jembatan prategang / cable stayed (STRUKTUR ATAS)

Teknik Finishing dinding dengan Beton expose