Cara Terbaik Pemakaian dan Pencampuran Semen..??


Dampak Penggunaan Semen dan Material lainnya sesuai type konstruksi
Siapa yang tidak kenal semen, apalagi yang sehari-harinya bergelut dengan dunia bangunan dan konstruksi beton. Tanpa semen, bangunan modern tidak mungkin bisa berdiri seperti saat ini. Fungsi semen sebagai bahan pengikat campuran, mulai dari campuran beton, plesteran dan acian dinding juga untuk mengikat pasangan bata atau batako. Tanpa semen, mungkin akan dibutuhkan banyak putih telor sebagai perekat untuk membangun sebuah gedung, kayak candi gitu lho..!! 
Bukan hanya developer dan kontraktor, Anda yang membangun rumah tinggal pribadi juga penting untuk memperhatikan bagaimana seharusnya tukang melakukan pemakaian dan pencampuran semen. Kesalahan dalam aplikasi semen akan membuat hasil tidak sempurna. Jangan hanya mengandalkan tukang, pengawas juga harus tahu cara pencampuran dan pemakaian semen yang baik dan benar serta sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai bangunan retak-retak atau dinding terkelupas karena pencampuran yang tidak benar. Anda harus tahu bahwa campuran yang benar untuk dinding kamar mandi tidaklah sama dengan campuran untuk dinding kamar tidur. Bagaimana seharusnya agar pencampuran dan pemakaian semen baik dan benar, simak artikel ini sampai tuntas.

Ada beberapa kesalahan dalam pemakaian dan pencampuran semen yang perlu anda ketahui. Kesalahan ini kerap terjadi pada proyek-proyek bangunan, terutama bila pengawasnya kurang perhatian, apalagi tanpa pengawasan. Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi dan bagaimana seharusnya : 

Kesalahan Pertama : Takaran semen tidak sesusai dengan peruntukannya.
Bila semen akan digunakan sebagai bahan mortar untuk plesteran, acian, maupun adukan beton, masing-masing campuran memiliki takaran agar membentuk campuran yang ideal. Namun yang terjadi di lapangan, seringkali tukang mencampurkan semen dengan takaran yang tidak sesuai dengan standar pemakaian. Sebagai contoh, takaran semen untuk plesteran dinding menurut aturannya adalah 1:8. Yang artinya, 1 takaran semen dicampur dengan 8 takaran pasir. Namun dengan alasan penghematan, seringkali tukang mencampurkan dengan perbandingan 1:10 atau 1:12.
Bagaimana Seharusnya..??
Ingat, bila takaran tidak sesuai maka hasil aplikasinya menjadi tidak sempurna, bahkan bisa terjadi kerusakan. Karena itu, alangkah baiknya jika takaran semen harus diperhatikan. Hal ini terutama untuk campuran beton. Jika salah takarannya, struktur yang terbuat dari beton bisa retak. Takaran semen yang ideal adalah sebagai berikut :
a. Plesteran dinding = 1:8
b. Plesteran dinding kamar mandi = 1:3 

Kesalahan Kedua : Berlebihan memakai air.
Adukan tidak bisa merekat bila tidak ditambahkan air. Air berfungsi untuk mengikat semen dengan pasir atau batu kerikil. Jika air yang dicampurkan terlalu banyak maka campuran akan menjadi encer. Demikian juga jika airnya terlalu sedikit maka campurannya akan menjadi kental. Permasalahan yang terjadi adalah tukang menuangkan air terlalu banyak ke dalam adukan, baik untuk plesteran maupun beton. Akibatnya, ketika dinding diplester dengan adukan maka akan banyak adukan yang terbuang ke bawah karena adukan tidak bisa melekat dengan baik ke dinding. Untuk campuran beton, pemakaian air harus ditentukan dari kualitas/mutu beton yang ingin dicapai. Kuantitas air harus dihitung dari perbandingan antara berat air dan berat semen atau dikenal dengan istilah Faktor Air Semen (FAS). Komposisi air dan semen yang ideal jika FAS berkisar antara 0,4–0,6. Semakin tinggi nilai FAS maka adukan beton semakin encer. Umumnya untuk mendapatkan kualitas beton yang tinggi, nilai FAS-nya rendah.
Bagaimana Seharusnya..??
Pemakaian air harus disesuaikan dengan kebutuhan campuran. Idealnya, campuran beton yang dipakai untuk balok, kolom, atau pondasi, menggunakan perbandingan 1 takaran semen, 2 takaran pasir, dan 3 takaran kerikil. Dengan komposisi ini, jumlah air yang dipakai adalah 0,5 dari volume semen. Ini artinya, nilai FAS-nya masih dalam ambang batas yaitu 0,5 (1 takaran air : 2 takaran semen = 0,5). Jika volume semen 1 takaran ember plastik maka air yang dibutuhkan 0,5 takaran ember plastik. 

Kesalahan Ketiga : Dicampur dengan material yang tidak tepat.
Untuk membuat campuran plesteran dinding dibutuhkan material lain yaitu pasir. Permasalahan yang terjadi, pasir yang digunakan seringkali tidak “sehat”. Pasirnya mengandung lumpur, tanah liat, atau garam. Pasir yang tidak sehat menyebabkan semen tidak bisa menyatu dengan pasir. Tak hanya mencampurnya dengan pasir berkualitas buruk, semen terkadang dicampur dengan batu kapur. Tujuannya untuk mengurangi pemakaian semen. Padahal hal ini justru bisa merusak hasil akhir aplikasi semen.
Bagaimana Seharusnya..??
Gunakan pasir yang bersih. Pastikan pasirnya tidak mengandung lumpur atau tanah liat lebih dari 5%. Jika memang pasir yang dipakai mengandung lumpur, usahakan untuk mencuci pasir tersebut sebelum dipakai. 

Kesalahan Keempat : Campurannya tidak homogen.
Dalam membuat campuran, semen diaduk terlebih dahulu dengan pasir atau batu kerikil sebelum dituang air. Permasalahan yang terjadi, sebelum pasir atau batu kerikil tercampur semen dengan merata, air sudah dituang terlebih dahulu. Alasannya untuk menghemat waktu. Akibatnya, ketika campuran tersebut diaplikasikan, ada beberapa bagian yang mudah terlepas karena komposisi semen sebagai perekat tidak merata.
Bagaimana Seharusnya..??
Pastikan campuran antara semen dengan pasir atau batu kerikil tercampur secara merata terlebih dahulu sebelum dituang air. 

Selain dalam memakai dan mencampur, dalam pengaplikasiannya pun semen harus diperlakukan dengan baik dan benar. Contohnya dalam pengacian. Campuran acian seringkali diaplikasikan sebelum permukaan plesteran mengering. Akibatnya, campuran acian tidak bisa menempel sempurna pada permukaan plesteran. Selain itu, ketika diaplikasikan ke permukaan plesteran, campuran acian ini banyak yang rontok. Begitu pula dalam penyimpanan. Jangan menyimpan semen di tempat yang lembap. Akibatnya, uap air meresap ke dalam semen yang ujung-ujungnya semen bisa mengeras. Simpanlah semen di dalam ruangan yang kering. Jangan menaruhnya langsung di permukaan tanah atau lantai. Berilah alas di bawah tumpukan semen, bisa menggunakan plastik, kayu, atau bata. 
Oke, bagi Anda yang masih awam ilmu tentang dunia bangunan, baik tentang material, proses pembangunan, maupun teknik konstruksi, sebaiknya Anda memanfaatkan jasa kontraktor untuk mengerjakan proyek bangunan Anda, baik rumah tinggal maupun gedung lainnya. Lebih baik menyisihkan dana untuk membayar jasa kontraktor yang terpercaya dan bertanggungjawab daripada nantinya bangunan anda mengecewakan.
developerdankontraktor.blogspot.co.id

Postingan populer dari blog ini

Contoh cara perhitungan struktur perencanaan jembatan prategang / cable stayed (STRUKTUR ATAS)

Teknik Finishing dinding dengan Beton expose